July 27, 2010

Mari Lebih Menyayangi Keluarga

Toleransi sering diberikan tanpa syarat pada orang lain, tapi pada orang-orang terdekat, kita sering bersikap keras. Mari lebih menyayangi keluarga - itu tweet saya pagi ini.

Dengan dalih memberi pelajaran pada orang-orang terdekat, kita sering bersikap keras, sering mengkritik, atau yang lebih ekstrim mencela. Kita berpikir untuk memperbaiki (lebih tepat mengubah) sikap dan perilaku orang - orang terdekat akan lebih efektif dengan cara yang sedikit lebih keras.

Dengan dalih juga sudah terlalu sering ditegur baik baik tapi tetap saja tidak berubah, sehingga teguran berikutnya pasti lebih keras dari yang pertama. Semakin keras Anda 'berteriak', apakah itu berkorelasi terhadap perubahan sikap pihak yang kita tegur, kemungkinan malah akan mendapatkan resistensi, bisa juga membuat orang yang kita sayangi tsb sakit hati, yang malah akan membuat runyam.

Kita juga sering berdalih jika yang bersalah adalah pihak luar (bukan orang orang terdekat kita), buat apa kita menegur, toh dia bukan apa apa kita. Atau karena ingin mempertahankan hubungan baik, kita malah berkompromi dengan kesalahannya. Itu tidak salah sih. Tapi itu tidak adil (setidaknya menurut saya).

Bagaimana kalau logikanya dibalik. Sederhana saja, orang-orang terdekat kita adalah orang - orang yang setiap hari dalam 24 jam sering bertemu kita, bergantung pada kita, memuja kita, atau merawat kita, itulah yang harus kita jaga secara fisik dan psikis. Bukankah luka yang ditimbulkan oleh orang - orang yang kita sayangi adalah yang paling membekas di hati kita. Kalau orang lain mah, sekarang melukai besok kita sudah lupa, karena tidak setiap hari ketemu, kerusakan yang ditimbulkannya tidaklah terlalu dalam.

Saya ingat 'quote' dari Mario Teguh:
Jika kita diam, kehidupan diam.
Jika kita curiga, kehidupan
berlaku seperti pantas dicurigai.
Jika kita mengkritik, kehidupan tampil semakin layak dikritik.


Ahh saya harus banyak belajar bagaimana membuat orang - orang terdekat saya mempunyai kehidupan yang tidak layak dikritik.

Orang - orang terdekat sayalah yang harus lebih saya jaga perasaannya, karena merekalah hidup saya.



Your Culture is Your Brand

'Your Culture is Your Brand' begitu judul tulisan Pak Roni (Founder TDA) pagi ini, yg selalu menjadi sarapan pagiku. Kita sering berpikir bahwa yg punya culture adalah perusahaan2 besar yang sudah mapan. Nah, perusahaan kecil apalagi yang baru dirintis, mana sempat memikirkan 'culture' segala, wong owner-nya sudah kehabisan waktu untuk mikirin yang begituan. Sebagian besar waktu sang owner habis untuk proses.

Salah, 'culture' bisa dibangun dari awal. Dari hal hal yang kita pikir paling kecil, remeh temeh. Misal, disiplin waktu. Sejak awal rekrut staf, mulai dengan membiasakan disiplin waktu, datang di kantor tepat waktu, pulang dari kantor juga harus tepat waktu (adil kan). Hal itu bisa ditanamkan sejak pertama kali staf baru masuk kantor. Tentu saja owner-nya dituntut memberi teladan.

He he, tantangan yang tidak mudah bagi yang masih berkantor di SOHO (Small Office Home Office). Jangankan sang owner sudah duduk di meja siap memulai aktivitas kerja, lebih konyol lagi malah belum mandi. Tentu tidak sedap dipandang staff baru, dia sudah bersedia datang tepat waktu....eh Pak Direkturnya masih pakai celana pendek, belum mandi lagi....sori kalau ada kisah yang mirip...ha ha ha.

Sejak punya staff baru, saya sendiri lebih rajin mandi pagi hari...he he biasanya sih nunggu mau jemput anak sekolah baru mandi. Saya berharap saat staff baru itu tiba di kantor, dia melihat saya sudah wangi dan siap beraktivitas.

Tapi rupanya staff baru punya kebiasaan jelek, datang sering telat bahkan pernah sejam telat, padahal baru seminggu kerja. Bagi saya itu sudah preseden buruk. Meski juga saya tidak berani menegur dengan keras, takut dia mewek duluan.

Soal disiplin waktu ini saya sering berbeda pendapat dengan Tito (suami & partner bisnis). Bagi saya disiplin waktu adalah sikap bawaan, bahkan bisa saya samakan dengan karakter. Kalau dari awalnya sudah sering telat, kemungkinan dengan 'treatment' apapun sulit untuk berubah. Sedang menurut Tito yang bisa lebih toleran, untuk kondisi baru biarkan staff tersebut beradaptasi, tinggal kasih 'treatment' khusus mudah- mudahan bisa berubah. Mungkin suami saya berangkat dari premis, bahwa menjadi pegawai/staff di sebuah SOHO adalah sesuatu yang kurang menarik bagi orang. Sehingga untuk kondisi awal kalau ada seseorang yang bersedia menjadi staff kami, banyak toleransi yang harus kita berikan, di antaranya adalah disiplin waktu itu tadi. Kalau di awal sudah digeber dengan peraturan yang ketat, mana ada staff yang tahan lama.

Saya tentu saja tidak setuju. Disipilin waktu adalah hasil dari kebudayaan, dan kebudayaan dibangun dari kebiasaan yang lama dilakukan. Bagi saya itu sama saja dengan karakter. Untuk membangun kebudayaan perusahaan menurut saya harus dipilih orang orang yang bisa menerima dengan ikhlas prinsip prinsip budaya kita, dalam arti tentu orang tsb juga bukan orang yang lelet lelet amat, setidaknya tidak berbeda 180 derajat dengan kita. Yah mungkin dalam kasus disiplin wkatu ini, saya berharap staf baru saya bisa menerima prinsip saya gak usah 100% dulu, 75% saja, selebihnya biar kebiasaan di kantor yang akan mengubahnya.

Mungkin dalam hal ini banyak yang berbeda pendapat..............silakan komentar ya! Saya ingin mendengar perspektif orang lain.

Tentu perihal yang saya tulis ini bisa berbeda di perusahaan lain. Perusahaan2 besar yang 'core' bisnisnya adalah kreativitas, mungkin disiplin waktu tidak mendapat perhatian lebih. Mereka lebih menekankan pada performance kerja.

Tulisan Pak Roni bisa dibaca di :

http://roniyuzirman.wordpress.com/2010/07/27/your-culture-is-your-brand/


June 28, 2010

Cinta Yang Lebih Rasional

Suatu sore yang cerah, sambil mengemudi kudengar percakapan di radio Kosmonita, tentang topik rumah tangga, lebih tepatnya tentang topik...perceraian. Weiiittts...siapa yang bisa membicarakan perceraian, membayangkan saja tidak akan pernah.

Suka tidak suka perceraian adalah masalah riil, dia ada sebagai risiko dari adanya perkawinan. Sebagai perempuan matang (kok hiperbolik menyebut 'dewasa') kita tidak bisa mengenyahkan hantu yang bernama perceraian. Memikirkannya bukan berarti berniat untuk melaksanakannya.

Pembicaraan di radio itu mengupas tentang masalah hukum. Hukum perkawinan di negara ini belum bisa melindungi hak perempuan, terasa berat sebelah. Bagi perempuan 'diceraikan' tidak sama dengan 'gugat cerai'. Diceraikan, hukum sedikit berbaik hati pada perempuan, tidak demikian halnya dengan 'gugat cerai', hukum kurang berpihak pada perempuan.

Masalah hukum yang dibahas adalah tentang pembagian harta gono gini. Ketimpangan rasa keadilan yang sudah seumur peradaban manusia. Alasannya sederhana, karena hukum dibuat oleh laki laki. Perempuan yang menggugat cerai, belum tentu mulus perjuangannya mendapatkan harta gono gini
(harta yang diperoleh selama perkawinan), terlebih jika dia tidak independen secara finansial, alias tidak punya penghasilan sendiri. Gugat cerai yang tidak disertai alasan yang bisa diterima hakim pengadilan agama, perempuan harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan harta gono gini.

Saran dari ibu konsultan yang ada di radio tsb, untuk perempuan yang menggugat cerai harus mengajukan alasan yang kuat mis. KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)...ha ha. Pikirku KDRT yg
bisa dibuktikan adalah fisik, sedangkan KDRT psikologis...bagaimana membuktikannya???

Bagaimana bisa harta gono gini bisa berbeda terhadap kasus 'diceraikan' dan 'gugat cerai'??? Sepertinya perempuan dipersulit untuk 'menceraikan' pasangannya.

Lalu, bagaimana dengan perempuan yang tidak bekerja jika mengajukan gugatan cerai. Pilihannya tidak banyak, satu : bertahan dalam perkawinan yang tidak membahagiakan (kalau tidak berani melewati kondisi tanpa penghasilan nantinya) atau dua : bertempur dalam perceraian untuk mendapatkan harta gono gini. Dua2nya tidaklah mudah.

Kok yang dibahas masalah materi yang kesannya 'matrek' sih. He he, materi sangat penting bagi
perempuan yang memilih untuk bercerai. Dia harus memikirkan bagaimana untuk bertahan hidup
'sementara' sambil melewati proses yang menekan secara psikologis, untuk kemudian meneruskan kehidupannya sambil melewati masa pemulihan trauma perceraian. Apalagi jika ada anak anak. Belum tentu pasangan Anda akan masih memikirkan Anda selama proses gugat cerai tersebut, apalagi rela berbagi harta. Siapa yang bisa menjamin?

Jika dikilas balik, sangat berisiko bagi perempuan menikah yang menggantungkan kehidupan finansial sepenuhnya pada pasangannya. Tidak ada yang bisa meramal tentang kematian atau perceraian. Kematian adalah pasti, perceraian adalah pilihan.

Di negara kita belum populer perjanjian pranikah tentang 'pisah harta'. Hiiii makhluk apa pula itu. Dulu aku pernah baca tentang hal ini dan menghakiminya sebagai egois. Tapi sekarang aku melihat sisi rasionalnya.

Renungan buat yang akan memasuki kehidupan pernikahan, jika sudah mempunyai penghasilan sendiri entah dari berbisnis atau bekerja, pertahankan itu. Kehidupan tidak selamanya mulus seperti rencana Anda. Bagi yang diminta pasangannya untuk melepas penghasilan, sudah saatnya menata diri ke arah cinta yang lebih rasional.

Ahhh... terimakasih bu konsultan dan radio Kosmonita, atas pencerahan topik yang tidak disukai..he he.

June 01, 2010

Untuk Memanusiakan Atau Melestarikan Kehewanian ???

Dari blog Teguh Prasetyo

====================

Kakek Girang (AKeGi) : Badan cewe itu harus dibungkus, jangan ngumbar aurat gitu!


Cucu Jahanam (UCuHa): Kenapa?

Akegi : Supaya tidak memicu maksiat. Menggumbar aurat itu mengundang syahwat, kalau kamu diperkosa lelaki gimana?

Ucuha : Lho, kenapa bukan lelaki saja yang diajari mengendalikan nafsu?

Akegi : Tidak semua lelaki bisa mengendalikan nafsu, kalau kamu ketemu orang-orang yang prilakunya seperti binatang, gimana?

Ucuha : Ya sekarang lelakinya gimana, mau milih jadi manusia atau jadi binatang?

Akegi: Kamu itu, dikasih tau kok ngeyelan. Aturan suci itu diturunkan Tuhan untuk melindungi perempuan dari binatang-binatang berwujud manusia yang suka memperkosa wanita pengumbar aurat!

Ucuha : Ya harusnya tujuan Tuhan bikin aturan suci itu, untuk membuat manusia binatang jadi beradab. Supaya mampu mengendalikan nafsu dan tidak sembarangan memperkosa hanya karena definisinya tentang aurat tidak dihormati. Harusnya memberdayakan lelaki supaya kuat mengendalikan diri, bukan malah mendukung ketidakberdayaannya dalam mengendalikan selangkangan.

Akegi : Heh, apa maksud kamu?

Ucuha : Ya kalau nggak mampu mengendalikan diri, itu yang harus dicari sebabnya, dipelajari caranya supaya jadi mampu. Bukan malah menyalahkan perempuan. Bayangkan, suatu kaum yang selalu tergoda makan mie rebus setiap menghirup baunya. Nggak ikut ngerebus, nggak beli, tapi langsung saja nimbrung ikut makan. Tuhan umat seperti ini pasti akan menurunkan ayat yang mewajibkan setiap mie instan harus ditutupi supaya baunya tidak kemana-mana.

Akegi : Kamu jangan sok tahu. Tuhan itu maha tahu. Aturan ini bikinan Tuhan lho. Asli. Asli banget. Kamu harus percaya! Jangan kurang ajar!

. . . . . . . . .

Dialog diatas adalah hasil mencuri dengar yang sudah dimodifikasi. Untung mencuri dengarnya tidak sampai selesai. Andai hukuman untuk ‘mencuri dengar’ adalah potong kuping, maka hukumannya bisa dikurangi sampai jadi hukum tindik saja.

August 20, 2009

Kodrat

Jika ada pertanyaan "apakah kodrat perempuan itu"?? Aku setuju dengan pendapat Siti Musdah Mulia (intelektual muslim dalam bukunya Muslimah Reformis), kodrat perempuan yang terberi oleh alam adalah hamil, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya adalah hasil konstruksi sosial dan budaya manusia yang terpelihara sejak peradaban manusia ada sampai sekarang. Apakah mengasuh anak juga hasil konstruksi sosial yang dibebankan pada perempuan. Menurut buku itu 'ya betul', dan aku setuju.

Urusan domestik rumah tangga termasuk mengasuh anak adalah kesepakatan, keridoan, keikhlasan, dan hak perempuan. Jika ada hujatan terhadap perempuan yang ingin berkiprah di ranah publik sebagai "melawan kodrat", maka si penghujat benar benar tidak tahu esistensi kodrat itu yang sebenarnya. Dia menghujat perempuan yang sudah dibentuk oleh budaya, dibentuk oleh konstruksi sosial. Dan itu seperti menorehkan ujung pisau ke kemanusiaan perempuan. Tentu saja si penghujat tidak bersalah, dia hanya meneruskan budaya yang sudah terwarisi.

Perempuan sendiri sudah terberi oleh alam mekanisme psikologi dan fisik untuk melangsungkan kehidupan keturunannya. Kondisi tersebut dijadikan senjata untuk 'mendomestikkan' perempuan, pertanyaannya oleh siapa? Tentu saja oleh penguasa sejak ada peradaban manusia, dan kekuasaan adalah patriarkhal...sangat.

Opini ini bukan untuk melawan budaya, hanyalah setitik usaha dekonstruksi sosial yang sudah dimulai oleh para feminis muslim.
Pasti banyak yang berpendapat, bukankah sudah banyak perempuan2 yang berkiprah di ranah publik dan juga berprestasi di sana. Memang benar, fakta sudah banyak membuktikan, tapi sayangnya hanya sebatas di lingkungan terdidik saja. Sedangkan yang terjadi di masyarakat kelas bawah sungguh mengenaskan. Alasan ekonomi membuat banyak perempuan mencari nafkah, dan bertanggung jawab penuh terhadap urusan domestik. Sungguh suatu tanggung jawab yang berat.

Sedangkan di kelas menengah, terjadi ambigu, sudah ada kesadaran untuk memberi ruang publik pada perempuan, dan urusan domestik rumah tangga menjadi kesepakatan kerja sama dalam rumah tangga...alhamdulillah. Tetapi satu pihak yang menganggap bahwa 'ranah publik' itu ada atas jasanya, atas ijinnya. Mereka masih enggan beranjak dari premis bahwa "ruang publik juga milik perempuan". Jadi mereka menganggap merekalah yang telah berjasa 'untuk tidak mendomestikkan perempuan'.

Sedangkan di kelas lain yang lebih terdidik (bukan pendidikan akademis maksudnya), Sudah banyak pihak yang telah tercetak 'blue print' di pemikirannya bahwa ruang publik adalah milik bersama (laki laki dan perempuan). Tidak ada pihak yang merasa berjasa (dalam relasi pernikahan), dan tidak ada pihak lain yang merasa menerima jasa atas ruang publik yang telah dinikmatinya. Jadi tidak ada yang merasa bersalah, tidak ada yang merasa berjasa, dan tidak ada pihak yang harus berterimakasih.

Ahhh...utopia?? tentu saja bukan
.

March 10, 2009

Kemahalan?? Nggak Juga

Sudah lama blog ini terbengkalai, semenjak persalinan hingga gadis kecilku Keenant sekarang usia hampir 5 bulan. Bingung karena kemampuan menulis sudah menurun, padahal dulu juga gak pinter.

Hari ini ingin bercerita tentang kunjungan ke Klinik Mata Malang (Malang Eye Center) yg relatif baru, bertempat di jalan yg sama dengan sekolahku dulu SMPN 3 Malang. Si sulung sakit mata, merah dan bengkak dan sudah berhari2. Karena males cari praktek dokter mata yg buka siang hari, ya akhirnya ambil jalan pintas ke Klinik Mata tsb, namanya klinik mata pasti ada aja dokternya, gak hanya sore hari.

Dari tongkrongannnya yang lumayan megah untuk sebuah Klinik, bisa diasumsikan siapa pasar yang dituju
. Masuk ke gedungnya semakin memperbesar asumsiku, rada grogi juga ntar mahal banget tarifnya. Begitu masuk langsung dismabut oleh ruangan yg sejuk karena berpendingin, dilengkapi dg apotik, gerai kacamata, dan sofa yg empuk.

Setelah registrasi di reception, si sulung digiring ke sebuah ruangan...yang ternyata ruangan refraksionis. Dengan keramahan petugas refraksionisnya yang simpatik...aku masih belum menyadari kalau ini sebenarnya adalah 'jebakan halus'. Bagi yang tidak membutuhkan jasa refraksionis...he he buat apa masuk dan menerima pelayanan ini. Si sulung diperiksa matanya, apakah ada kelainan myiopia, atau silindris atau sejenisnya...dan ternyata aman2 saja, artinya gak perlu pakai kacamata.

Keluar dr ruangan tsb, menuju ke ruang tunggu dokter mata, sambil jelalatan melihat begitu apiknya ruangan tsb ditata. Pasien masih sedikit...untung gak pake ngantri. Sambil menunggu, berpikir ttg jasa refraksi tadi, boleh juga nih trik marketingnya. Pasien baru digiring untuk menerima pelayanan refraksi tsb, entah itu atas permintaan atau bukan. Memang sih pelayanan tsb di optik2 adalah gratis
, krn jualan utama mereka adalah kaca mata, jadi jasa refraksi adalah semacam bonus yang bisa menggiring seseorang utk memakai kaca mata. Dan untuk orang2 di segmen pasar yg dituju klinik ini, aku yakin pastilah gak merasa keberatan untuk digiring seperti itu. Walaupun aku sebenarnya lebih berprinsip memakai jasa kesehatan sesuai peruntukannya dan tdk memerlukan jasa2 bonus yg gak aku perlukan...he he efisiensi biaya. Tapi kali ini untuk anakku, tidak apalah...meskipun harus merogoh kantong agak dalam.

Tiba giliran si sulung, ruangan periksa dokter cukup apik. Ada beberapa sofa dan meja pendek, yg di tempat lain pasti hanya meja tulis dan sebuah kursi untuk dokter dan sebuah lagi untuk pasien. Dokternya pun simpatik, melayani dg ramah...iyalah untuk
servis pada kelas ekonomi tertentu, perilaku dokter sangat menentukan. Dokternya seorang perempuan muda, cantik dan modis. Berperilaku menyenangkan pada seorang anak...he he si sulung jadi merasa betah. Menyarankan obat juga sekaligus menggiring untuk membeli obat yg lebih mahal, drop eye yang berbentuk deretan tube2 kecil, yang katanya sih gak pake pengawet...okelah, siapa yg bisa menolak kalau yg menyarankan seorang dokter muda cantik yg ramah. He he jadi terpesona dengan jiwa muda, yang menjanjikan profesionalitas dan keenerjikan. Masih Muda sdh jadi spesialis.

Tiba saatnya giliran menunaikan kewajiban, alias ke Kasir. Setelah ditotal akhirnya keluar juga angkanya, Rp. 170rb, 110rb untuk jasa dokter, entah sdh termasuk jasa refraksionis atau digratiskan, dan 60rb untuk obat. He he lumayan juga, klo dibandingkan dg layanan praktek dokter biasa yang paling2 untuk jasa dokter spesialis max adalah 70rb.

Aku segera posting status di Facebook, utk menyatakan salut dg layanan Klinik Mata tsb. Rasa salutku lebih pada strategi jualan mereka. Beberapa komen dr teman2 di FB yang pada intinya menyatakan layanan mereka adalah 'over cost', hati hati ntar di-charge mahal.

Bukan ingin menjadi sok penyuka layanan mahal, aku hanya ingin belajar 'strategi jualan' mereka. Mereka dengan sadar menyasar target pasar tertentu dan bermain dengan strategi pelayanan bak hotel berbintang. Konsumen di kelas tsb pasti tdk ada yang keberatan dengan tarif layanan yg relatif lebih mahal. Konsumen yg tidak perlu bersusah payah berpikir tentang 'jebakan halus' seperti yang aku pikirkan, dan tidak menyadari telah digiring2 utk membeli obat yg lebih mahal. Isn't that interesting?? Kata Brad Sugars.

August 20, 2008

Buku 'Ganti Hati' - Dahlan Iskan Sang Inspirator

Ini buku lama yg baru sempat terbaca...dengan gaya penuturan yg ringan tapi lugas ala Dahlan Iskan (Owner & CEO Group Jawa Pos), sesuatu yg sebenarnya 'menyeramkan' bagi orang awam jadi seperti cerita ringan mengalir lancar. Mungkin karena yg menulis adalah mantan wartawan. Kenapa 'menyeramkan' karena Pak Dahlan menjelaskan dengan detil segala sesuatu yg berbau medis tentang operasi dan keadaan pasca operasi transplantasi hati/liver-nya. Apalagi disertai beberapa foto. Aku memang sangat suka dengan hal2 medis...bagiku dunia medis seperti 'dunia lain' yang menantang untuk diketahui.

Pesan2 yang tersurat di buku ini sangat bagus untuk direnungkan...meski penjelasannya ringan dan kadang bikin senyum geli. Pak Dahlan memutuskan untuk melakukan tranplantasi liver dg mantap dan terencana, tanpa ragu sedikitpun akan kegagalan hasilnya. Karena dia percaya bahwa takdir bisa diubah.

Pak Dahlan menyebutkan bahwa keberhasilan operasinya karena 2 hal utama, selain karena mukjizat Tuhan juga keahlian tim dokter yg melaksanakan operasi tsb. Beliau percaya dan menghargai ilmu pengetahuan. Kadang orang sering melupakan jasa ilmu pengetahuan, sehingga sering menihilkan peranannya. Ahh seandainya operasi Cak Nur (Nurcholis Madjid) tokoh muslim idolaku juga berhasil seperti operasi Dahlan Iskan...walahualam.

Dalam buku ini juga ada sekelumit kisah perjalanan Dahlan membesarkan bisnisnya 'Group Jawa Pos'. Nasihatnya bagi pemula bisnis yg datang dari keluarga bukan pebisnis...yang aku ingat nih...adalah sabar dan fokus. Orang yang ingin dan baru mulai bisnis tapi bukan dari keluarga pebisnis umumnya tidak sabaran, maunya cepat dan langsung besar. Keinginannya banyak sekali untuk mengembangkan bisnis langsung ke banyak hal. Inilah umumnya yang membuat banyak kegagalan.